Faktor Alam Dan Manusia

Posted: Desember 28, 2012 in Uncategorized

1. Banjir. Daerah-daerah yang sudah biasa mengalami banjir di musim hujan seyogyanya agar mulai berwaspada menghadapi keatangan banjir ini. Meskipun demikian, kawasan-kawasan yang dalam kegiatan pembangunan menyebabkan perubahan drainase perlu juga waspada. Terkait masalah banjir ini, prediksi curah hujan dari BMKG penting untuk dicermati. Pada tingkat nasional atau daerah, seyogyanya instansi yang bertanggungjawab menangani masalah bencana alam memiliki peta daerah banjir untuk seluruh kawasan di Indonesia dan mengatahui kapan biasanya banjir itu terjadi di kawasan-kawasan yang dipetakan itu.
2. Tanah longsor atau gerakan tanah. Bencana ini selain berkaitan dengan curah hujan yang tinggi juga berkaitan dengan kondisi geologi atau geomorfologi suatu kawasan. Daerah-daerah yang sudah dikenal sebagai daerah yang rawan terhadap bencana alam ini sudah harus berwaspada. Selain itu, daerah-daerah yang berlereng terjal lain juga perlu berwaspada. Beberapa waktu yang lalu di kawasan Kepulauan Indonesia sering terjadi gempa bumi. Gempa bumi bila terjadi di musim hujan dapat memicu terjadinya tanah longsor di kawasan yang rawan bencana tanah longsor. Penduduk yang berada di daerah yang telah dipetakan sebagai daerah rawan bencana longsor perlu berwaspada. Pada tingkat nasional atau daerah, instansi yang terkait seyogyanya telah memiliki peta daerah rawan bencana ini, dan sekarang berwaspada. Tentang bencana ini patut diingat bahwa skalanya bisa besar beberapa hektar luas areal yang longsor, tetapi bisa pula hanya kecil seperti tebing atau lereng curan di tepi jalan atau di belakang rumah.
3. Banjir pasang surut. Curah hujan yang tinggi di musim hujan ini atau kondisi banjir yang terjadi karena curah hujan yang tinggi dapat memperparah atau memperluas daerah-daerah yang terpengaruh oleh banjir pasang surut. Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir ini dan daerah yang berbatasan dengannhnya perlu berwaspada. Institusi di tingkat daerah seyogyanya memiliki peta daerah rawan bencana ini.
4. Erosi dan Banjir Bandang. Erosi akan meningkat di musim hujan ini, terutama di daerah perbukitan atau pegunungan. Daerah-daerah berbukitan atau pegunungan yang ada kegiatan pembukaan hutan atau lahan di dalamnya perlu berwaspada. Erosi yang terjadi di daerah-daerah tersebut dapat memicu terjadinya banjir bandang. Kemudian, erosi dapat terjadi di tebing-tebing sungai karena meningkatnya debit aliran sungai.

 

 Bencana terkait Angin Kencang
Bencana alam yang dapat terjadi berkaitan dengan tiupan angin musim barat adalah:
1. Gelombang tinggi. Daerah-daerah atau segmen-segmen pantai yang terbuka dari arah barat atau dari arah datangnya angin perlu berwaspada. Tiupan angin yang kencang dapat menimbulkan gelombang tinggi, apalagi bila terjadi bersamaan waktunya dengan kondisi laut yang sedang pasang.
2. Erosi pantai. Erosi pantai berkaitan dengan kondisi gelombang, dengan demikian erosi pantai terjadi musiman. Segmen-segmen pantai yang terbuka dari arah barat perlu waspada terhadap erosi pantai karena sekarang ini adalah saatnya erosi itu terjadi.
3. Angin puting beliung. Angin ini adalah angin lokal yang bersifat merusak. Di daerah-daerah tertentu karena kondisi lingkungannya bisa terbentuk angin-angin lokal yang terjadi pada musim-musim tertentu.
Di perairan, kawasan-kawasan yang kuat terpengaruh oleh angin musim barat ini agar diwaspada, terutama bila kita melintasinya. Prediksi angin dari BMKG perlu dicermati. Daerah-daerah yang secara umum terpengaruh adalah kawasan pantai barat Sumatera, kawasan Selat Karimata, kawasan Laut Jawa dan kawasan Selat Sunda.
Bencana alam didefinisikan sebagai bencana yang menimpa manusia murni karena proses alam. Definisi ini mengisyaratkan ada bencana karena aktifitas manusia dan ada pula bencana alam yang dipicu atau diperhebat oleh aktifitas manusia. pada kesempatan ini kita hanya membicarakan bencana yang murni karena proses alam.
Proses alam dapat terjadi di geosfer atau lithosfer, hidrosfer atau di air atau di laut, dan atmosfer atau di udara. Proses alam yang terjadi di tiga domain itu dapat saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, bencana alam yang terjadi di suatu kawasan, termasuk di Indonesia, sangat ditentukan oleh kondisi geologi, oseanografi dan meteorologi kawasan atau daerah tersebut.
Meskipun kita dapat membedakan adanya geosfer, hidrosfer dan atmosfer, namun proses yang terjadi sering sangat berkaitan satu sama lain dan kadang tidak dapat berdiri sendiri.
 Bencana terkait Kondisi atau Proses Geologi
Berikut ini kita meninjau bencana alam yang proses utamanya adalah proses geologi. Proses geologi dapat dibedakan menjadi proses-proses endogen (yang bekerja di dalam Bumi) dan proses-proses eksogen (yang bekerja di permukaan Bumi).
Proses endogen terdiri dari:
1. Gerak Tektonik – menyebabkan gempa. Gempa dapat mengebabkan terjadinya patahan di kerak bumi. Guncangan gempa dapat mencetuskanLongsor atau Gerakan Tanah seperti yang terjadi di Padang Pariaman. Adapun patahan yang terjadi di dasar laut dapat memicu terjadinyaTsunami (proses terjadi di laut atau hidrosfer), seperti yang terjadi ketika gempa 26 Desember 2004 di Samudera Hindia. Sementara itu, longsor yang terjadi di palung-palung laut dalam juga dapat menimbulkan Tsunami.
2. Magmatisme – menimbulkan gunungapi – menyebabkan letusan gunungapi yang menimbulkan aliran Awan Panas atau Lahar Panas bila ada danau kawah yang ikut jebol. Kemudian, endapan pasir di lereng gunungapi bila terkena hujan lebat (proses atmosfer) dapat menimbulkan aliran Lahar, baik lahar panas maupun lahar dingin. Contohnya seperti yang terjadi Gunung MerapiYoguyakarta.
Proses eksogen terdiri dari:
1. Pelapukan batuan – menyebabkan gerakan tanah atau longsor.Longsong yang terjadi pada batuan yang lapuk dapat terjadi karena dipicu oleh guncangan gempa (proses endogen), atau oleh curah hujan (proses di atmosfer) yang tinggi.
2. Banjir – terjadi karena curah hujan yang tinggi. Aliran air yang terjadi dapat menimbulkan erosi di tebing-tebing sungai. Muatan sedimen yang masuk ke laut karena aliran sungai akan menimbulkan sedimentasi di laut.
 Bencana terkait Proses di Atmosfer
Berikut ini adalah bencana yang terjadi dengan proses-proses di atmosfer sebagai proses utama.
1. Angin – terjadi karena proses-proses yang terjadi di atmosfer. Tiupan angin terjadi karena perbedaan tekanan udara. Di Indonesia, pola angin musiman secara umum dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara di Benua Asia dan Benua Australia (Kepulauan Indonesia terletak di antara kedua benua itu). Kita mengenal adanya Musim Angin Barat dan Musim Angin Timur. Untuk daerah pesisir, daerah yang terbuka dari arah barat akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin barat; sedang untuk daerah pesisir yang terbuka dari arah timur akan terkenapukulan gelombang yang timbul karena angin yang bertiup dari arah timur. Di daerah-daerah tertentu, karena kondisi morfologi daratannya yang bergunung-gunung, dapat terjadi tiupan angin lokal yang merusak. Kita di Kepulauan Indonesia tidak mengalami Badai Tropis. Tetapi, badai yang terjadi di Samudera Hindia dapat menimbulkan gelombang tinggi di pantai-pantai dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia yang menghadap ke Samudera Hindia. Pukulan gelombang di pantai dapat menyebabkan erosi pantai.
2. Kekeringan (dan Banjir) – terjadi di Indonesia berkaitan dengan perubahan musim angin yang berkaitan dengan posisi Kepulauan Indonesia yang diapit oleh dua benua itu. Atau karena pengaruh dari proses atmosfer yang terjadi di Samudera Pasifik (El Nino atau La Nina). Karena pengaruh proses Samudera Pasifik, musim kering dapat berlangsung lebih panjang durasinya, musim hujan datang terlambat, atau curah hujan sangat tinggi. Kekeringan dapat menimbulkan kebakaran hutan (seperti terjadi di Sumatera dan Kalimantan) atau kelaparan (atau kekurangan stok pangan nasional) karena kehabisan bahan pangan.
Manusia Dapat digolongkan Kedalam Beberapa Bagian yaitu sebagai Pencetus terjadinya bencana sekaligus Korban Dari Bencana Tersebut.
Erosi dapat berkaitan dengan manusia dalam 2 hal. Pertama berkenaan dengan pencetusan erosi atau peningkatan intensitas atau laju erosi, dan Ke-dua berkaitan dengan dampak erosi.
Telah sama kita ketahui bahwa sebagai suatu proses alam, erosi pasti terjadi. Untuk dapat terjadinya erosi, tentu harus terpenuhinya kondisi-kondisi alamiah tertentu. Campur tangan manusiua terhadap proses erosi terada pada tataran pengubahan kondisi-kondisi yang menjadi prasayarat bagi berlangsungnya erosi.
Sebagai Pencetus
Campurtangan manusia dapat terjadi dalam bentuk menghadirkan kondisi prasyarat terjadinya erosi. Dengan campur tangan manusia, di daerah yang semula tidak ada erosi, menjadi ada erosi; daerah yang semula erosi ringan jadi erosi berat; daerah yang semula laju erosinya pelan menjadi lebih cepat. Misalnya, membuat lereng lebih curam (tebing jalan), membuat kekuatan aliran air terkonsentrasi di suatu tempat (pengaturan drainase), mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menghambat aliran air (penebangan hutan).
Dalam hal manusia sebagai penyebab erosi, hal ini dapat terjadi karena dua hal: (1) karena ketidaktahuan, dan (2) karena ketidakpedulian dengan kerusakan lingkungan. Untuk kondisi yang pertama, dapat diatasi dengan pendidikan atau pengajaran. Untuk kondisi yang kedua diperlukan penegakan hukum.

Sebagai Korban
Proses erosi dapat merugikan kepentingan manusia. Dalam hal ini kita dapat menyebut manusia sebagai korban. Macam-macam kerugian yang dapat dialami manusia karena erosi seperti: kehilangan tanah yang subur (erosi menghilangkan lapisan permukaan tanah, pada erosi permukaan), mengalami kerusakan lahan (lahan menjadi tertoreh-toreh oleh erosi riil atau gully di daerah berlereng, bad land topography), kehilangan lahan secara fisik (lahan benar-benar hilang tererosi, pada kasus erosi lateral di tepi aliran sungai atau di tepi pantai).
Kemudian, pada tingkat diatasnya, manusia mengalami kerugian karena kehilangan atau kerusakan segala sesuatu atau aset yang ada di atas lahan yang tererosi itu, seperti kehilangan kebun, pemukiman, jalan, dan berbagai macam objek lainnya yang dibangun di atas lahan yang tererosi itu.
Dalam hal manusia sebagai korban erosi, tentu manusia selalu berupaya untuk menghindar atau berusaha mengatasi proses erosi itu. Upaya untuk mengatasi mkasalah erosi bukanlah pekerjaan sederhana yang ringan, melainkan pekerjaan yang rumit dan berbiaya tinggi. Olah karena itu, upaya penanggulangan masalah erosi ini dilakukan oleh Pemerintah atau masyarakat berdasarkan pertimbangan nilai kerugian yang mungkin timbul karena erosi bila erosi itu terjadi di suatu kawasan. Sebagai contoh, bila erosi mengancan jalan raya, maka upaya penanggukangan pasti dilakukan. Seperti di daerah Eretan, Indramayu. Erosi pantai mengancam jalan Pantura yang vital, maka di sepanjang pantai dipasang pertahanan pantai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s